0

cerita inspirasi by helen

Posted by helena.hati10 on 15 September 2010 in Academic |

Nama : Helena Ayu P.H.
NRP : A24100051
Panji : 3
Laskar : 16

CERITA INSPIRASI
1. Semakin Semangat dan Terus Berjuang
Pada waktu lulus SMP, saya berharap bisa masuk ke SMA favorit, yaitu SMA N 1 Bojonegoro, tapi Tuhan tidak menghendaki hal itu, nilai UAN saya selisih 0,5 dari batas minimum diterimanya siswa baru di SMA tersebut, sehingga saya masuk k sekolah pilihan kedua saya, yaitu SMA N 4 Bojonegoro
Awalnya saya kehilangan semangat dan terus bersedih. Tapi atas dukungan orang tua dan teman-teman, banyak hal positif yang muncul di pikiran dan hati saya, sehingga saya kembali semangat dan bersuka cita.
Pada saat penjurusan di kelas XI saya masuk ke program IPA. Disini saya merasa persaingan antar siswa semakin ketat, dan hal ini membuat nyali saya jadi ciut. Saya merasa kurang bisa bersaing, seperti waktu SD dan SMP dulu. Rasa kurang percaya diri membuat saya semakin terjun ke lembah kegagalan,dan saya takut hal itu terjadi lagi di SMA, padahal saya ingin membuktikan pada orang tua dan semua orang yang disekitar saya bahwa saya bisa menjadi orang yang lebih maksimal lagi. Saya ingin memperbaiki kesalahan sistem belajar saya sewaktu SD dan SMP.
Hingga suatu saat saya bertemu dengan seorang teman. Namanya kak Vera, dia selisih enam tahun diatas saya. Pada suatu kesempatan, saya menceritakan bagaimana kegundahan dan keputusasaan saya. Ternyata tanggapan yang diberikan kak vera membuat saya terkejut, dia malah tertawa dan mengatakan bahwa dia bernasib sama dengan saya. Waktu SD dan SMP dulu, kak Vera tidak menonjol di sekolahnya, karena dia tidak terlalu bersungguh-sungguh dalam belajar. Sama seperti saya. Malah katanya saya masih lebih beruntung karena ditempatkan di SMA yang persaingannya dibawah sekolah favorit. Dulu kak Vera diterima di SMA swasta yang favorit di Surabaya, jadi perjuangannya mengejar ketinggalan lebih sulit lagi. Satu hal yang membuat saya terinspirasi darinya adalah, perjuangannya yang diiringi doa, usaha, dan restu orang tua tidak sia-sia, dia bisa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri di Malang, Universitas Brawijaya, dan dia mengambil fakultas pertanian. Yang membuat saya kagum adalah, kak Vera merupakan satu-satunya siswa di sekolahnya yang berhasil tembus ke PTN, karena saya tahu memang sulit sekali bagi sekolah swasta daerah untuk bisa berkuliah di PTN. Selain itu kak Vera juga menceritakan pada saya apa alasannya memilih fakultas pertanian, dan dia malah secara tidak sengaja berhasil meyakinkan saya akan pentingnya pertanian. Dari sini semangat saya mulai terpacu, dan saya mulai merubah pola pikir saya. Kalau kak Vera bisa, mengapa saya tidak..?
Kemudian saya mulai berjuang, dengan menambah jam belajar dan doa saya mulai memperbaiki diri. Saya menjadi lebih percaya diri untuk bisa bersaing dengan teman sekelas di program IPA. Bahkan setelah melihat hasil di semester ketiga saya menjadi bersemangat untuk berrival dengan teman-teman dari kelas lain.
Pada semester kelima, formulir USMI IPB ditawarkan di SMA, saya tertarik untuk mencobanya. Saya pikir, kalau saya berminat di bidang pertanian, akan lebih baik bila saya mempelajarinya di sekolah pertanian terbaik pula. Karena itu, saya ambil kesempatan emas ini.
Puji Tuhan, pada bulan februari pengumuman penerimaan mahasiswa baru IPB keluar dan saya diterima. Padahal sebelumnya saya sempat berkecil hati karena teman-teman yang mengambil jurusan sama dengan saya ada empat orang, dan selain itu dua rival saya dari kelas lain juga mencoba daftar ke IPB. Sementara tidak mungkin semua diterima. Tapi dengan diterimanya saya, saya tahu Tuhan punya rencana untuk saya mendalami pertanian. Saya sangat bahagia, tiket pertama untuk menuju IPB sudah saya dapatkan.
Kemudian saya harus berjuang untuk mendapatkan tiket yang kedua, yaitu lulus UNAS. Dan puji Tuhan, tiket kedua kembali berhasil saya dapatkan, hasilnya pun cukup memuaskan. Jadi usaha, semangat, perjuangan, doa, dan restu dari orang tua saya tidak sia-sia. Saya juga berhasil membuktikan pada orang-orang disekitar saya bahwa saya bisa memberikan yang terbaik.
Dengan terinspirasi pada teladan yang benar, pandangan dan pola pikir kita pun akan menjadi luas dan jauh ke depan memandang masa depan yang penuh pengharapan.

2. Setia Pada Hal-Hal Kecil
Saya bukanlah orang yang mempunyai keahlian di satu bidang, kemampuan saya merata, namun tidak menonjol disalah satunya. Demikian pula pada pelajaran di sekolah. Namun sayangnya dulu saya tidak berusaha mengembangkannya.
Sebenarnya hal tersebut baru saya sadari pada waktu SMA. Ketika rapor semester satu dibagikan, saya mendapat peringkat tiga kelas. Waktu itu saya dan beberapa teman saling membandingkan nilai, dan dari situ saya lihat kelemahan teman saya pada beberapa pelajaran yang dianggap sepele, dan sayangnya juga tidak saya utamakan, seperti pelajaran BudiPekerti, Pendidikan Kewarganegaraan, Agama, Bahasa, Sejarah, Geografi, TIK, dsb.
Untuk semester berikutnya saya memulai strategi saya untuk setia pada hal-hal kecil, termasuk pada pelajaran yang disepelekan tersebut. Untuk pelajaran pokok, teman-teman banyak menunjukkan persaingan, jadi saya lihat peluang saya besar pada pelajaran lainnya. Puji Tuhan, pada semester kedua saya berhasil memperoleh peringkat satu dan masuk ke program IPA.
Pada semester awal di kelas ini, saya masih beradaptasi pada teman-teman dan pelajaran-pelajaran yang mengutamakan ilmu eksak ini. Sehingga di semester kedua peringkat saya merosot ke peringkat dua. Namun kembali lagi saya lihat kelemahan dari teman saya yang mendapat peringkat satu. Kelemahannya sama dengan teman saya waktu kelas satu dulu. Dia hanya memaksimalkan nilai pada pelajaran pokok IPA, yaitu Biologi, Kimia, Fisika, dan Matematika. Sedangkan pada pelajaran lain nilainya cukup.
Saya kembali terpacu untuk memberi perhatian lebih tidak hanya pada pelajaran pokok, tapi juga pada pelajaran lainnya. Puji Tuhan, dengan strategi tersebut, saya kembali mendapatkan peringkat satu di semester 4.
Beberapa hari setelah pembagian rapor, ada teman saya yang meminjam rapor saya untuk dibandingkan dengan nilainya. Kemudian dia bertanya mengapa nilai-nilainya pada pelajaran pokok tidak jauh beda dengan saya, namun dia tidak bisa mendapat peringkat. Lalu saya ungkapkan semboyan saya padanya, yaitu untuk setia pada hal-hal kecil, yang dalam kasus ini adalah pelajaran yang notabene diabaikan. Dia mengiyakan bahwa selama ini dia hanya berusaha untuk pelajaran pokok dan mengabaikan pelajaran lain, dan mulai saat itu dia berjanji untuk juga setia pada hal-hal kecil.
Hasilnya memuaskan. Puji Tuhan, disemester kelima saya kembali meduduki peringkat pertama dan nilai teman saya juga meningkat.
Pada ujian akhir sekolah dan UNAS saya masih menerapkan strategi belajar saya, namun sayangnya sepertinya teman saya sudah melupakannya. Sehingga teman-teman mendapatkan nilai yang tinggi di UNAS, yaitu rata-rata 51,00 ke atas, sedangkan saya hanya 50,90. Namun Tuhan memberikan hadiah terindah pada saya, yaitu, tanpa saya duga saya mendapat penghargaan sebagai pelajar berprestasi di sekolah bersama enam anak lainnya, karena mendapat jumlah nilai UNAS dan UAS tertinggi di sekolah, dan saya mendapat peringkat dua dalam penghargaan tersebut. Ternyata, walaupun nilai UNAS saya tertinggal dari teman-teman, saya menang di ujian sekolah, baik tulis maupun praktek. Dimana pelajaran yang diujikan di ujian sekolah adalah pelajaran selain pelajaran pokok.
Saya bersyukur karena hal ini, dan saya semakin yakin pada semboyan saya. Dan saya harap, melalui cerita ini, saya bisa kembali menjadi inspirasi untuk teman-teman. Supaya teman-teman setia pada hal-hal kecil dan memberikan yang terbaik pada setiap tanggung jawab, dan kesempatan yang diberikan pada pada kita. Sehingga kita bisa memberikan hasil yang maksimal.

Copyright © 2010-2016 helena.hati10's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.4, from BuyNowShop.com.